Di balik hamparan kebun kakao di Kabupaten Luwu Timur, tersimpan dedikasi panjang selama lima tahun untuk memastikan masa depan yang lebih cerah, anak-anak terlindungi dan perempuan semakin berdaya.
Bertempat di Aula Sasana Praja Kantor Bupati Luwu Timur, Selasa (24/02/2026), Pemerintah Kabupaten Luwu Timur yang diwakili Sekretaris Daerah, Dr. Ramadhan Pirade, bersama Save the Children Indonesia (StC) resmi menutup rangkaian Program Perlindungan Anak di Rantai Pasok Kakao dan Program GrowHer Kakao.
Program ini merupakan hasil kolaborasi strategis sejak 2021 antara StC Indonesia dan PT Mars Wrigley, dengan dukungan implementasi lapangan oleh Sulawesi Cipta Forum.
Pada aspek perlindungan anak di rantai pasok kakao, program tersebut berhasil membentuk 51 kelompok Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) yang tersebar di tujuh kecamatan. Kelompok ini hadir sebagai garda terdepan di tingkat desa dalam mencegah dan menangani kekerasan serta praktik berbahaya terhadap anak. Seluruhnya telah memiliki payung hukum melalui peraturan desa, sehingga keberlanjutannya lebih terjamin.
Dalam sambutannya, Sekda Ramadhan Pirade menegaskan bahwa kolaborasi lima tahun tersebut menjadi bukti nyata komitmen bersama dalam membangun masa depan daerah.
“Keberhasilan puluhan PATBM dan kelompok usaha perempuan yang telah terbentuk bukan sekadar akhir dari sebuah program, melainkan standar baru dalam membangun kemandirian desa,” ungkap Ramadhan.
Ia menambahkan, masa depan Luwu Timur sangat bergantung pada seberapa kuat komitmen melindungi anak-anak dan memberdayakan perempuan.
“Pemerintah daerah berkomitmen untuk melanjutkan semangat yang telah ditanamkan melalui proyek ini. Ketika perempuan berdaya, petani semakin sejahtera. Ketika petani sejahtera, desa menjadi kuat. Dan ketika desa kuat, daerah akan semakin maju dan mandiri,” jelasnya.
Sementara itu, Senior Manager Agriculture Portfolio Lead StC Indonesia, Ihwana Mustafa, mengungkapkan bahwa kehadiran PATBM membawa dampak signifikan di tengah masyarakat.
“PATBM di Luwu Timur bukan hanya menjadi napas baru dalam pencegahan dan penanganan kasus kekerasan terhadap anak, tetapi juga bukti komitmen dalam memenuhi hak dasar anak. PATBM berhasil membantu penerbitan lebih dari 3.500 Kartu Identitas Anak (KIA), memastikan tidak ada anak yang tertinggal di rantai pasok ini,” tutur Ihwana.
Dari sisi pemberdayaan perempuan, lanjutnya, Program GrowHer Kakao mendorong kemandirian finansial melalui pembentukan 93 Kelompok Simpan Pinjam Desa atau Village Saving and Loan Association (VSLA) di 28 desa, dengan total akumulasi dana simpanan mencapai lebih dari Rp6 miliar.
“Sebanyak 446 warga, yang hampir seluruhnya perempuan, kini tergabung dalam 31 kelompok usaha produktif. Mereka telah membukukan total bagi hasil lebih dari Rp20 juta. Seluruh kelompok minimal telah mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB), bahkan sebagian besar telah melengkapi legalitas dengan sertifikasi PIRT, PSAT, hingga sertifikat halal,” pungkasnya.
Momentum penutupan ini menjadi tonggak estafet bagi Pemerintah Daerah dan masyarakat Luwu Timur untuk terus merawat benih-benih perlindungan, kesetaraan, dan kemandirian yang telah tumbuh selama lima tahun terakhir. Program ini dinilai membawa perubahan nyata, baik dalam perlindungan anak maupun peningkatan ekonomi keluarga.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Asisten Pemerintahan dan Kesra, para kepala OPD lintas sektor, pimpinan PT Mars, camat, kepala desa, TP PKK Kabupaten, Forum PATBM, hingga para “champion” program yang selama ini menjadi motor penggerak di desa-desa.
