MALILI — Di balik rimbunnya hutan tropis yang menjadi habitat alami pohon rumbia, deru mesin parut sederhana memecah kesunyian pagi di dusun Kore – Kore, desa Wewangriu, kecamatan Malili, kabupaten Luwu Timur, Senin 11 Mei 2026.
Tiga orang pria tampak bahu-membahu mengolah batang pohon sagu menjadi butiran-butiran putih yang nantinya akan menjadi sumber karbohidrat utama bagi masyarakat setempat.
Tubuh salah satu pria yang disisi kanan itu hampir seluruhnya tertutup serbuk putih sisa parutan batang sagu (Metroxylon sagu). Dengan hati-hati ia mendorong potongan batang sagu ke dalam mesin parut mekanis.

Sementara rekannya di sisi kiri sigap mengumpulkan hasil parutan ke dalam wadah plastik.
Proses Melelahkan yang Penuh Makna
Pengolahan sagu secara tradisional bukanlah pekerjaan ringan. Sebelum sampai ke tahap pemarutan, petani harus memilih pohon yang sudah cukup umur (sekitar 5 – 10 tahunan), menebangnya, dan menguliti kulit luarnya yang keras.
“Ini adalah warisan turun-temurun. Meskipun melelahkan dan debunya menutupi seluruh badan, dari sinilah kami hidup,” ujar salah satu pekerja di lokasi pengolahan tersebut.
Setelah diparut, serbuk kayu sagu ini di proses ekstraksi dengan air untuk memisahkan pati dari seratnya. Pati sisa endapan itulah yang kemudian dikeringkan menjadi tepung sagu yang siap dikonsumsi sebagai Kapurung, sagu lempeng, atau bahan dasar Dange / kue.

Pilar Ketahanan Pangan
Di tengah fluktuasi harga beras dan komoditas pangan nasional, sagu tetap menjadi “pahlawan” bagi kedaulatan pangan di berbagai pelosok Indonesia. Sagu dikenal sebagai tanaman yang tahan terhadap perubahan iklim dan tidak memerlukan perawatan kimiawi yang rumit.
Namun, potret ini juga memperlihatkan tantangan yang dihadapi para petani lokal. Dengan peralatan yang masih semi-tradisional dan perlengkapan keamanan kerja yang minim, para petani ini harus bergelut langsung dengan debu dan risiko mesin setiap harinya.

Harapan di Masa Depan
Meskipun prosesnya masih terlihat tradisional, semangat para petani ini menunjukkan bahwa potensi pangan lokal Indonesia sangatlah besar.
Dukungan berupa teknologi pengolahan yang lebih bersih dan efisien sangat diharapkan agar nilai ekonomi sagu dapat meningkat, tanpa menghilangkan kearifan lokal yang sudah ada.
Kini, serbuk putih yang menempel di sekujur tubuh mereka bukan sekadar debu, melainkan simbol dedikasi dalam menjaga piring-piring masyarakat tetap terisi oleh kekayaan alam nusantara.
Penulis: Alpian Alwi
