BACAANONLINE.COM — Di sebuah beranda kayu yang mulai menua, Di Desa Mekarsari, waktu seakan melambat, Menemui raga yang telah melewati satu abad, Nenek Jahira, dengan sisa tenaga dan kesunyiannya.
Lalu datang ia, sang pemimpin yang menanggalkan kasta, Bukan dengan titah, melainkan dengan air mata, Irwan Bachri Syam bersimpuh di debu tanah, Mencari berkah di jemari yang telah pecah-pecah.
Ada getar yang tak sanggup dibahasakan, Saat kening sang bupati menyentuh punggung tangan, Seratus dua tahun beban hidup Nenek Jahira, Seolah luruh dalam satu pelukan yang penuh makna.
“Ibu, maafkan kami jika kau sempat merasa sendiri, Di bawah langit Luwu Timur, kau adalah pusaka kami.” Kata Irwan Bachri Syam .
Di Kalaena hari itu, kita belajar satu hal yang pasti : Bahwa jabatan hanyalah titipan yang fana,Namun bakti kepada yang tua adalah jalan menuju surga.
Seorang bupati yang memilih rendah hati, Di hadapan seorang nenek yang kini tak lagi merasa sepi.
( Alpian Alwi )
