BACAANONLINE.COM — Di sebuah sudut Desa Mekarsari, Kecamatan Kalaena, berdiri sebuah rumah kayu yang telah lama menjadi saksi bisu kesendirian Nenek Jahira.
Di usianya yang telah menyentuh 102 tahun, langkahnya mungkin sudah renta, namun gurat wajahnya menyimpan ketabahan seorang ibu yang menjalani hari-hari panjang seorang diri.
Hari itu, suasana sunyi di teras rumahnya berubah menjadi penuh keharuan. Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, datang berkunjung.
Bukan sekadar kunjungan kerja protokoler, melainkan sebuah kunjungan layaknya seorang anak yang merindukan ibunya.
Momen Keheningan yang Bicara
Dalam sebuah gestur yang begitu dalam, Sang Bupati bersimpuh di hadapan Nenek Jahira. Ia menggenggam tangan yang telah keriput dimakan usia itu dengan penuh takzim, lalu menempelkan keningnya di atas punggung tangan sang nenek.
”Di tangan yang renta ini, ada doa yang menembus langit. Di balik kesendiriannya, ada tanggung jawab yang harus kita tunaikan.” Kata Bupati Irwan.
Tak ada jarak antara pemimpin dan rakyatnya. Yang ada hanyalah seorang pria yang tunduk penuh hormat pada sosok yang mengingatkannya pada akar kemanusiaan.
Air mata yang tertahan dan dekapan hangat menjadi bahasa yang lebih kuat dari sekadar janji-janji politik.
Cahaya bagi Desa Mekarsari
Kunjungan ini bukan hanya tentang bantuan materi, tapi tentang kehadiran seorang Bupati di desa Mekarsari. Bagi Nenek Jahira, kehadiran Irwan Bachri Syam adalah bukti bahwa di usianya yang seabad lebih, ia tidak benar-benar terlupakan.
Negara hadir melalui pelukan seorang pemimpin yang memilih untuk bersimpuh daripada berdiri tinggi.
Momen di Desa Mekarsari ini mengajarkan kita satu hal : setinggi apa pun jabatan seseorang, tidak ada tempat yang lebih mulia daripada bersimpuh di bawah doa dan restu orang tua.
(Alpian Alwi)
