Peran perempuan di PT Vale Indonesia Tbk menunjukkan tren yang semakin positif dalam beberapa tahun terakhir. Hingga April 2026, jumlah pekerja perempuan tercatat mencapai 12,37 persen atau 363 dari total 2.934 karyawan, meningkat konsisten dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan data perusahaan, tren partisipasi perempuan terus mengalami kenaikan dari 8,6 persen pada 2021, menjadi 8,7 persen pada 2022, lalu 10,21 persen pada 2023, 11,58 persen pada 2024, 12,09 persen pada 2025, hingga mencapai 12,37 persen di tahun berjalan 2026. Capaian ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam mendorong kesetaraan gender di industri pertambangan yang selama ini identik dengan dominasi pekerja laki-laki.
Jika dilihat dari sebaran lokasi operasional, keterlibatan perempuan juga cukup signifikan. Di IGP Pomalaa, persentase pekerja perempuan mencapai 26,53 persen (26 dari 98 pekerja). Sementara di Sorowako sebesar 10,14 persen (265 dari 2.613 pekerja), dan di IGP Morowali sebesar 22,77 persen (23 dari 101 pekerja).
Tak hanya dari sisi jumlah, perempuan di PT Vale juga mulai mengambil peran di berbagai level jabatan, mulai dari non-staff, staff, hingga posisi strategis. Tercatat, perempuan mengisi 76 posisi non-staff, 156 staff, 108 senior staff atau manajer, 18 general manager atau specialist, serta 5 posisi manajemen puncak. Bahkan, keterlibatan perempuan di sektor operasional tambang, seperti operator alat berat dan pekerjaan shift malam, menjadi bukti nyata bahwa batasan gender mulai terhapus di lingkungan kerja.
Komitmen PT Vale terhadap kesetaraan gender diwujudkan melalui berbagai kebijakan konkret. Perusahaan menerapkan prinsip Diversity, Equity & Inclusion (DEI) yang terintegrasi dalam kebijakan perusahaan, mulai dari rekrutmen tanpa bias gender, kesetaraan upah, hingga target peningkatan jumlah perempuan di posisi kepemimpinan.
Selain itu, perusahaan juga menghadirkan lingkungan kerja yang inklusif melalui kebijakan zero tolerance terhadap diskriminasi dan pelecehan, fasilitas ramah perempuan seperti ruang laktasi dan alat pelindung diri yang sesuai, serta kebijakan cuti yang mendukung peran perempuan, termasuk cuti melahirkan selama empat bulan dan cuti haid tanpa syarat medis.
Dalam upaya pengembangan karier, PT Vale menyediakan berbagai program seperti pelatihan kepemimpinan, mentoring, coaching, serta keterlibatan dalam proyek strategis. Perusahaan juga memperkuat pipeline talenta perempuan melalui kerja sama dengan institusi pendidikan dan program vokasi, khususnya bagi perempuan lokal di sekitar wilayah operasional.
Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam mengubah paradigma industri tambang yang selama ini didominasi laki-laki. Untuk itu, PT Vale secara konsisten mendorong perubahan melalui peningkatan budaya kerja inklusif, pembukaan akses yang lebih luas, serta pembentukan komunitas internal seperti Vale Women Network sebagai wadah pengembangan dan kolaborasi pekerja perempuan.
Momentum peringatan Hari Kartini menjadi refleksi penting bagi perusahaan dalam memperkuat komitmen tersebut. Bagi PT Vale, peringatan ini bukan sekadar simbolik, melainkan pengingat bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam mendukung pertambangan berkelanjutan dan masa depan energi bersih.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, PT Vale menegaskan bahwa industri tambang terbuka bagi siapa saja yang memiliki kompetensi dan semangat berkembang. Perempuan diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari tenaga kerja, tetapi juga tampil sebagai pemimpin, inovator, dan agen perubahan dalam mendorong transformasi industri menuju arah yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
