LUWU TIMUR, BACAANONLINE.COM – Bagi sebagian orang, sepasang seragam sekolah mungkin hanya sekadar kain berpola. Namun bagi para orang tua yang setiap harinya berjuang di bawah terik matahari dan dinginnya malam Bumi Batara Guru, seragam gratis adalah simbol harapan dan kasih sayang pemerintah yang nyata.
Kehadiran program seragam gratis dari Pemerintah Daerah Luwu Timur musim ini bukan sekadar angka di atas kertas APBD, melainkan jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan di meja makan yang sederhana.
Senyum yang Kembali Mekar
Muhammad Dafa, salah satu orang tua siswa, tak mampu menyembunyikan binar matanya saat menerima paket seragam untuk anaknya. Selama ini, setiap tahun ajaran baru tiba, ada beban berat yang menghimpit pundaknya. Antara keinginan melihat sang anak tampil rapi di sekolah atau memenuhi kebutuhan dapur yang kian mencekik.
“Kadang kami harus memutar otak, beban mana yang harus didahulukan. Tapi hari ini, beban itu diangkat oleh pemerintah. Anak saya bisa bersekolah dengan seragam baru yang bersih,” tutur Dafa.
Doa Seorang Ibu yang Terjawab
Rasa haru yang sama dirasakan oleh Sitti Sahria. Sebagai seorang ibu, ia tahu betul betapa pentingnya rasa percaya diri bagi seorang anak di sekolah. Seragam gratis ini, baginya, adalah cara pemerintah memeluk anak-anak mereka agar tetap berani bermimpi tanpa harus merasa berbeda dengan teman-temannya.
“Alhamdulillah, hanya kata itu yang bisa saya ucapkan. Uang yang sedianya untuk beli baju, sekarang bisa saya pakai untuk kebutuhan lain dan keperluan sekolah lainnya. Pemerintah tidak hanya memberi baju, tapi memberi kami ketenangan,” ungkap Sitti Sahria sambil tersenyum.
Merawat Mimpi di Bumi Batara Guru
Program ini adalah bukti bahwa pendidikan di Luwu Timur bukan hanya soal gedung yang megah atau kurikulum yang canggih, melainkan tentang memastikan setiap anak, dari latar belakang apa pun, merasa didukung dan dihargai.
Pemerintah daerah memahami bahwa kemiskinan tidak boleh menjadi penghalang bagi cita-cita. Dengan seragam yang sama, di atas kursi kelas yang sama, setiap anak di Luwu Timur kini memulai langkah mereka dari garis start yang setara.
Kisah Muhammad Dafa dan Sitti Sahria adalah cerminan dari ribuan hati orang tua di Luwu Timur yang kini bisa bernapas lega. Di balik serat kain seragam itu, ada doa yang terjawab dan masa depan yang sedang dirajut bersama. (*)
